Bagaikan besi brani yang menarik-narik hatinya dan menciptakan mosaik abstrak dengan warna tak menentu dalam lamunannya.

“Sori, nggak dengar,” lirih gadis itu membuyarkan mosaiknya.

Dia menganggukan kepalanya ke arah ruang biro kepegawaian. “Saya memang lagi nunggu tanda terima berkas. Moga-moga nggak ada yang perlu difotokopi lagi,” tambahnya.

“Diterima di unit kerja mana?”

“Di laboratorium, sebagai analis,” jawab gadis itu.

“Lho, kok sama? Wah, kita berjodoh nih.” Dirinya kesenangan. “Kenalkan, nama saya Markus Gregory, panggil saja Mark.” Mark mengulurkan tangannya.

Gadis cleopatra itu tersenyum lagi dan mengulurkan tangannya yang lebih pantas memainkan tuts-tuts piano daripada memutar-mutar lensa mikroskop dan memegang tabung reaksi.

“Saya Anya,” ucap gadis itu singkat.

Sesaat tatapan mata hazel Anya mengembalikan mosaik abstrak milik Mark yang sempat buyar tadi. Mark menggeleng-gelengkan kepalanya. Fokus, Mark.

Bagikan :