Prolog

 

Lima bulan  semenjak kepergianku dari Indonesia, meninggalkan seorang sahabat baik dan orang tuaku. Mungkin ada rasa sedih dan kasihan. Aku meninggalkan Eka sendirian yang sudah aku anggap sebagai saudara kandungku itu. Tapi masalahku yang tak kunjung usai harus menghantarkanku menjadi seorang pengecut yang lari dari kenyataan.

Entah kenapa aku harus seperti orang bodoh, berlari dan pergi dari kenyataan yang serasa pahit untukku. Lagipula kenapa ayah harus menjodohkan aku dengan lelaki seperti itu, mendengar semua yang diucapkan oleh ibuku waktu di rumah sakit, aku tahu kalau keluarga Andi memang sangat menolong keluargaku saat ayah mengalami keterpurukan ekonomi akibat anak buahnya yang menipunnya.

Aku ingat perkataanku saat aku bertengkar dengan ayahku dirumah sakit. Saat aku masih ada di Indonesia, aku anak yang tak tahu diri ini datang ke Rumah Sakit sambil menangis dan menatap ayahku dengan tatapan sedih dan memohon padanya

“Ayah!! Terserah kau mengangapku anakmu lagi atau tidak setelah aku mengatakan hal ini.” Sambil menitikkan air mata, aku lanjutkan ucapanku.

“Aku ingin kau batalkan pernikahanku dengan Andi!! Aku siap apapun yang aku pilih,” ucapku sambil menangis sejadi-jadinya di depan ayahku itu.

Bagikan :