Aku siap meski menjadi orang miskin sekalipun, bekerja siang dan malam, menjadi seorang pembantu atau buruh pabrik pun aku rela. Setidaknya aku harus terbebas dari orang aneh seperti Andi.

“Kau!! Apa yang kau katakan!!” tegas ayahku sambil memegang dadanya yang serasa sesak karena perkataan yang terus menatapku sedari tadi. Tatapan tajam yang ia tujukan padaku dan tak menyangka anak kesayangannya akan  memberontak seperti ini.

Tapi nyatanya aku sangat salah, sampai kapanpun atau bagaimanapun juga. Ayah tak akan pernah mau membatalkan perjodohan ini. Sifat keras kepala yang melebihiku. Keteguhan dan keinginan dirinya yang harus tercapai, kadang membuat aku merasa ayah sangat egois dan hanya memikirkan dirinya dan sahabatnya itu.

“Aaayah!! Kau tak apa-apa?” ucapku bodoh sambil meghampiri dan memeluk ayahku. Menangisi apa yang aku perbuat.

“Apa pedulimu? Bukankah yang kau inginkan hanya kematianku ini?” kataku dengan ketus sambil menolak untuk aku peluk.

Baru pertama kali dalam hidupku, ayah berkata sekasar dan sekejam itu, dan masih dengan tatapan yang tajam yang tak henti-hentinnya melihatku.

“Kau menolak perjodohan itu, berarti kau juga menghantarkan nyawaku pada malaikat kematian.” Tatapan Ayah yang tajam kemudian berubah menjadi tatapan yang sedih dan berkaca-kaca.

Bagikan :