“Ayah!! Maafkan aku.”

“Apakah maaf cukup membuat keluarga hartawan menerimannya? Aku lebih baik mati ketimbang hidup tanpa muka di depan sahabatku itu.” Ayah berkata sambil seolah tak ingin melihatku.

“Baiklah, aku akan menerima perjodohan itu demi kau!! Tapi izinkan aku untuk melanjutkan sekolahku ini dan tinggal untuk sementara waktu bersama Revo,” kataku dengan tegas dan masih belum terima kenyataan yang aku bicarakan tadi.

Hatiku benar-benar tak menerima jika lelaki itu harus menjadi orang yang mendampingiku dan menjadi Ayah dari anak-anakku. Lelaki yang egois, sombong dan selalu menyakiti diriku itu.

“Benarkah!! Baiklah jika kau mau.. Aku akan mempersiapkan kuliahmu disana” dengan mata berbinar-binar ayahku menatapku sambil menggengam tanganku yang tadi ia tepis.

“Bukan kuliah Ayah!! Tapi aku bosan sekolah di SMA itu, aku ingin sekolah Dikorea sana”ucapku agak pelan dan menahan emosi yang benar-benar susah untuk diredam.

“Ssekarang??” ucap Ayahku binggung.

“Baiklah, Setidaknya kau sudah menyetujui perjodohan ini” lanjut Ayahku seolah-olah hal yang membuatku gundah dan galau tak ada masalahnya.

Bagikan :