“Nuna, cepatlah sedikit!! Lambatnya kau!  Macam siput saja,” ucap Revo sambil menaiki sepeda kesayangannya itu.

“Tak bisa kah kau sopan denganku?? Aku ini Nunamu!!” ucapku dengan nada keras.

“Baiklah!! Nuna cantikk. Apa kau sudah siap berangkat ke sekolah bersamaku?” tuturnya dengan muka di imut-imutkan

Bagaimana bisa ayahku berpikiran untuk memindahkanku sekolah bersama adikku yang tengil ini, satu rumah dengannya saja sudah membuatku hampir gila. Apalagi harus satu sekolah dan sekelas dengannya pula. Entah sebenarnya disini aku yang telat untuk sekolah atau memang dia yang cepat masuk sebelum umurnya sampai waktu SD.

“Sudah, kenapa kita harus menggunakan sepeda jelek ini untuk berangkat ke sekolah?” katanya sambil memegang pinggangnya agar tak terjatuh.

“Cihh, kau bilang apa tadi?? Sepeda jelek? Jika kau tak suka lebih baik kau naik angkutan umum saja sana!!”

“hehehhe!! 4Mianhe,  bukan bermaksud menghina sepedamu ini!! Hanya saja kenapa kau tidak minta dibelikan oleh Ayah kendaraan yang bagus.” Mencoba mencari alasan, setidaknya aku tidak membuat adikku marah dan kemudian meninggalkan aku disini.

Bagikan :