“Mmeeeninggal?” ucapku agak kaget dan panik mendengar hal itu.

“Tak ada yang tahu dengan penyakit Anwar,  meskipun orang tuannya sekalipun!! Dia tak mau dikasihani dengan penyakit kanker otaknya itu!! Tiga bulan setelah kau pergi ia meninggal, kau tahu!! Dia bersyukur kau tak ada sebelum kematian menjemputnya. Berharap kau tak melihat saat-saat ia meregang nyawa dan yang paling ia takutkan adalah saat kau menangis saat ia menutup mata untuk terakhir kalinnya” ucap Arif sambil memejamkan mata, seolah menekan rasa sedihnya itu.

Aku sangat histeris mendengar keadaan  Anwar, Kenapa hal itu bisa terjadi disaat  aku tak tau dan tak berada di sampingnya. Sikap Anwar yang baik dan pengertian membuat aku sangat senang.  Aku tahu  sikap dan sifat Anwar yang tak akan mau membebani orang lain karena keadaannya, tapi apakah harus seperti ini..

 Diam dan menahan sakit saat ia selalu bersama dengan orang lain, tersenyum meski seluruh anggota merasakan nyeri yang amat menyakitkan. Tapi siapa aku ini, aku bahkan sangat egois dan menyakinkan dirinya kalau aku sudah tak membutuhkannya lagi. Seakan Anwar adalah barang yang sudah tak terpakai lagi.

Tapi dalam lubuk hatiku, aku sangat menginginkan dirinya saat ini. Melihatnya sekali lagi tersenyum untukku selamannya. Bahkan saat-saat tersulitpun ia selalu sendiri dan masih memikirkan aku. Aku bahkan ingin selalu tergantung padanya dan tak akan pernah menyuruhnya meninggalkan aku.

Bagikan :