“Maafkan aku An!!” ucapku yang tak mampu menahan air mataku yang terjatuh dan  berlelehan membasahi pipi.

 Entah mengapa sekarang aku yang merasa sangat amat bersalah. Lelaki yang benar-benar sangat mencintaiku dan aku mengabaikannya. Dan disaat ia membutuhkan aku, aku justru meninggalkannya begitu saja..

 Meninggalkannya dalam keadaan yang tersulit, meninggalkannya dalam keadaan sakit, meninggalkannya disaat merasakan kesepian menemui ajalnya. Tak ada yang ia inginkan untuk berbagi, selain aku dan memang aku yang hanya bergantung padanya dan mungkin untuk terakhir kalinya ia bergantung padaku.

Arif mendekatkan tubuhnya ke arahku dan ingin memelukku, tetapi dengan cepat Revo menepis tangannya dan menarik tanganku menjauhi lelaki yang membuatnya tak suka.

“Tunggu!! Kau?” ucap Arif dengan nada tak suka pada Revo yang menarik tanganku itu.

“Ayok pergi, Bel akan mulai berbunyi!! Aku tak ingin terlambat dikelas hanya karena kau berbicara dengan orang asing.” ucap Revo sambil menarik tanganku, menjauhi Arif yang sudah tak terlihat lagi olehku.

“Nuna?? Kau kenapa, kau seperti orang yang habis menangis??” tanya  dongsaeku yang ternyata memperhatikanku dengan nada sangat penasaran.

Bagikan :