Resepsionis dilantai itu memberikan senyuman yang membuat Nadien berdiri kaku.

“Selamat pagi. . . . Anda pasti Nona Nadien. Anda sudah ditunggu didalam Nona. . . “ucap wanita itu dengan ramah lalu menemani Nadien menuju sebuah ruangan besar yang ada didepan nya. Diketuk nya pintu ruangan itu sebelum dibukanya.

“Selamat pagi Mr. Vincenzo. . . Nona Nadien sudah datang. . . “wanita itu mempersilahkan Nadien masuk. Lalu menutup pintu meninggalkan mereka berdua. Nadien memasuki ruangan ini,pandangan nya memutar keseluruh ruangan.

Ruangan itu cukup besar dengan meja kayu jati besar didepan nya berjejer sofa-sofa berwarna putih senada dengan karpet dibawah nya. Aksen-aksen nya pun cukup maskulin dengan perpaduan wana hitam,coklat dan putih.

Mata Nadien terdiam saat melihat sebuah lukisan besar diruangan itu. Sebuah lukisan anak kecil kira-kira berumur tiga tahun memakai gaun berwana merah muda tertawa begitu ceria. Lukisan itu begitu tajam hingga menusuk hatinya. Nadien memang tidak pernah bertemu anak yang ada dilukisan itu.

Bagikan :