BAB I

-Sraylira Melati-

Seorang laki-laki berpenampilan necis mengenalkan diri sebagai seorang editor dari sebuah penerbit kecil yang terkenal, dia bilang namanya Dilly. Saat ini ia tersenyum penuh keyakinan sambil menyerahkan kartu nama berisi nama, pekerjaan, alamat kantor, alamat rumah, alamat sosial media, nomor telepon yang bisa dihubungi serta foto yang tertera di samping identitas diri.

Dan aku mengabaikannya.

Aku sama sekali tak tertarik dengan tawarannya menjadi seorang novelis –meski sebenarnya ada setengah jiwaku yang langsung mengiyakan dan berjingkrak-jingkrak ketika tahu Dilly adalah seorang editor-. Aku memang suka menulis tapi tidak suka dirongrong untuk menyelesaikan ini, itu, ini, itu, seperti yang aku baca di sebuah blog seorang novelis beberapa waktu lalu. Ia bercerita setiap tahun penerbit menargetkan ia menulis sepuluh buah novel. Waw gila! pikirku. Tak ada yang bisa menjamin dalam jangka waktu satu tahun, sepuluh buah novel yang memang matang bisa ditulis dengan sangat baik, berkualitas maksudku –setidaknya jika itu aku, aku tidak bisa. Satu novel dalam setahun pun aku tidak bisa menjamin akan terselesaikan.

Bagikan :