Aku menggangguk cepat. Mataku berbinar-binar menatap tulisan di layar monitor, “Aku harus bertemu dengannya! Aku harus mengikatnya menjadi novelisku!”

“Kau seperti seorang psikopat. Tak perlu menggunakan kata ‘mengikat’. Jika kata itu keluar darimu rasanya itu bukan konotasi, itu denotasi.” Cherry menggeser kembali tempat duduknya ke posisi semula. Ia kembali membaca naskah-naskah yang bertumpuk di meja kerjanya. Naskah-naskah itu adalah naskah-naskah yang sudah diterima dalam waktu seminggu ini, kalau dihitung sekitar empat puluh naskah fiksi dan baru beberapa saja yang Cherry baca, itu pun hanya bab awal dan sinopsis keseluruhannya. Begitu juga di mejaku, dua puluh naskah fiksi yang sudah kutandai silang semua karena tak sesuai dengan senseku. Biasanya, Cherry akan membaca bagianku juga karena dia tak percaya dengan senseku sehingga pekerjaannya jadi semakin menumpuk, salahnya sendiri juga kenapa dia tak percaya padaku?

Cherry menyodorkan beberapa naskah dan melihat ke arahku seperti hendak menerkam, “Pada rapat redaksi selanjutnya, setidaknya kau mengajukan satu naskah untuk dipertimbangkan penerbitannya. Jika tidak, editor lain akan berpikir kau tak becus kerja.”

Aku hanya mengangguk malas. Dunia penerbitan yang aku idam-idamkan ternyata tidak seperti pikiran liarku. Sebagai editor, di sini aku diharuskan memilih naskah yang berpotensi, berkualitas, dan sesuai visi misi perusahaan untuk diterbitkan.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :