Dilly menatapku lekat-lekat dengan matanya yang besar, “Kau pasti bisa! Aku akan menjadikanmu seorang novelis yang handal.” Si Editor itu lantas membusungkan badan, berkata dengan penuh percaya diri seolah-olah dia adalah penulis cerita dan aku tokoh utamanya. “Percaya padaku! Di tanganku kau dan karya-karyamu akan menjadi masterpiece.” Aku menghela napas malas, orang ini sudah gila.

“Kenapa aku? Kau pikir tak ada calon penulis yang lebih potensial dibanding aku? Aku ini penulis pemula. Ceritaku tidak pasaran sehingga susah diterima penerbit -mungkin tak ada yang mau terima-” Aku menghentikan ucapanku sebentar, “Aku pasti membuatmu gagal.”

Dilly tetap menjaga senyum di wajah lembutnya seolah-olah penolakanku barusan hanyalah angin lalu. Oke, senyumannya berhasil membuatku getir. Aku merendahkan volume suara dan kembali melontarkan orasi padanya, “Aku tidak ingin menjadi novelis milik penerbit. Aku ingin menjadi aku yang bebas menulis. Aku menulis karena aku suka dan aku mencintai dunia penulisan. Aku bukan budak yang menulis karena uang atau ketenaran seperti novelis yang itu atau itu –mungkin sebenarnya aku kurang berhasrat menjadi penulis pro, aku hanya penulis lepas,” seruku.

Bagikan :