Aku teringat dengan beberapa novelis yang karya-karyanya aku baca di perpustakaan daerah. Pada awalnya tulisan mereka menarik, tapi lambat laun tulisan itu terasa hambar dan sama saja, mereka menelurkan 7-13 novel dalam satu tahun dan beberapa novel mereka kemudian difilmkan meski tidak laku di pasaran, mereka seperti mengejar uang dan ketenaran saja tanpa menomorsatukan kualitas tulisan atau mungkin kualitas mereka hanya berkisar di situ-situ saja tanpa ada perkembangan.

Dilly menyunggingkan senyum lagi, kulit wajah bersihnya yang tertimpa sinar matahari membuatnya tampak begitu bening seperti wajah model-model pembersih wajah. “Ya, aku tahu. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Jadilah penulisku, jadikan aku editormu. Kita akan menjadikan genre misteri dan horror menduduki genre terlaris abad ini dan pionirnya adalah kau, Sraylira Melati.” Dilly membungkukkan badan tegap tingginya, suara yang ringan kembali mencapai telingaku, “Kamu akan menjadi simbol genre misteri dan horror di Indonesia!”

Aku melirik Dilly cuek. Tak habis pikir mengapa ada orang aneh seperti dia yang mendatangi kampusku, memanggilku memakai pengeras suara di halaman kampus kemudian setelah melihatku dia menarik tanganku, membawaku ke sebuah kafe lantas menyodorkan kartu nama. Dan sekarang ia menyatakan hal yang membuatku geli, ‘simbol misteri dan horror’. Jangan bercanda! Cukup (Almh) Suzanna saja yang menjadi simbol horror di Indonesia.

Bagikan :