Satu genre saja aku tak mau –di antara misteri atau horror-, apalagi kedua-duanya.

Bisa-bisa orang takut padaku! Lebih parah lagi, bagaimana kalau sampai cowok-cowok takut padaku? Kehidupan menikah yang aku impikan terjadi di usia dua puluh lima akan pupus! Tidak!

“Jangan khawatir, meski semua orang takut padamu. Ada satu orang yang akan selalu menganggapmu lucu kok.”

Mataku dan Dilly bertemu sepersekian detik.

Ia lantas menunjuk ke dirinya sendiri, “Aku akan menjadi satu orang itu.”

Cih!

“Oh ya. Apa kau pernah membaca tulisanku? Kau dan aku tidak saling kenal sebelumnya. Tiba-tiba kau datang mencariku, menawarkan diri menjadi editor. Aku tak mengerti,” aku terdiam sejenak sembari mengingat-ingat nama penerbit yang pernah menolak atau menjadi target pengiriman naskahku, seingatku penerbit tempat Dilly bernaung tak ada di daftarku karena penerbitnya hanya fokus pada genre romansa sementara genreku misteri dan horror. Mata Dilly masih memandangku fokus. “Kau bukan penculik, kan?” Bola mataku turun naik menatap Dilly dari atas ke bawah dengan seksama dan penuh selidik.

Bagikan :