Dilly tertawa kecil, “Kau pasti bahagia apabila aku benar-benar seorang penculik,” jawabnya. Hah? Mengapa aku harus bahagia jika diculik?.

“Seorang penculik yang tampan seperti aku kan jarang-jarang.”

GUBRAK.

Orang ini narsis sekali. Kulirik wajahnya sekilas. Walaupun narsis, apa yang ia katakan memang berdasarkan fakta yang ada. Wajahnya memang masuk dalam jajaran apa yang gadis-gadis normal bilang ‘tampan’, enak dilihat.

“Karena kau penculik. Aku akan pergi sambil menarikmu ke kantor polisi.” Aku menarik tangan kanan Dilly yang lebih besar dua kali lipat dari tanganku tapi Dilly menarikku balik, “Mari kita masuk ke kafe ini, mengobrol sambil menyeruput kopi hangat. Para pelayan sedari tadi menunggu kita.”

“Bundaku berkata aku tak boleh bersama orang asing.”

“Kemudian mengapa barusan kau menarik tanganku?” tanyanya licik. Aku menelan ludah karena menyadari kesalahan fatal yang kuperbuat beberapa detik yang lalu. “Namaku Dilly, aku bukan orang asing. Aku editormu.”

 “Aku tidak punya editor. Maaf, aku harus pergi dan lepaskan tanganmu.” Aku meminta dengan nada suara kasar.

Bagikan :