Dilly menaikkan alisnya yang lumayan tebal dan menerobos ke dalam mataku, “Baiklah, mari kita pergi.”

Aku menoleh sebal pada Dilly. Ia sama sekali tak melepaskan tanganku, dia malah semakin menguatkan genggamannya yang membuat tanganku seperti terkunci dengan sebuah borgol. “Maaf, tolong lepaskan aku. Aku bukan anak kecil yang harus dituntun.

Aku bukan kekasihmu, dan juga bukan orang tua yang akan menyeberang jalan.”

Cih! Dilly benar-benar tak peduli dengan ucapanku. Ia terus saja berjalan sambil menarik tangan kananku. “Nah, Sraylira, menurutmu kita lebih baik bicara berdua di mana?”

Aku mendengus kesal dan melemparkan pandangan yang membuatku tak melihat wajahnya, “Siapa yang mau bicara berdua? Aku mau pulang! Aku tak mau jadi novelis kalau editornya orang aneh sepertimu!” lanjutku kasar.

Langkah-langkah kaki Dilly akhirnya terhenti di depan sebuah game center. Beberapa anak sekolah terlihat keluar masuk sambil membahas apa saja yang terjadi dalam permainan. Setiap kali melihat game center, yang ada di pikiranku hanyalah ‘apa pengunjungnya nggak ada kerjaan lain selain bermain-main?’ Aku bukan penikmat game sehingga tidak tahu apa asyiknya bermain game.

Jika untuk mengisi waktu atau melepaskan stress, aku cukup berada

Bagikan :