di depan laptop, menonton anime, membaca komik online atau mendengarkan musik. Bagiku, orang yang kecanduan game tidak bisa akrab denganku.

Dilly menolehkan kepala kepadaku dan melontarkan pertanyaan yang tambah membuatku keki,  “Apa kau mau bermain dulu? Anak kecil biasanya luluh setelah diajak bermain. Atau kau mau permen? Coklat? Atau bahkan sebuah balon? Pilihlah sesukamu.”

Tubuhku bergetar, rasanya aku ingin menonjok Dilly meski aku tak pernah melakukan kekerasan pada seseorang, walau hanya mencubit. Aku berprinsip rasa sakit itu menyakitkan, aku tak suka rasa sakit karena itu aku tak ingin memberi rasa sakit pada orang lain. Dan, sekalipun aku ingin melakukan sesuatu untuk melampiaskan rasa kesal, aku harus menahannya sebisa mungkin.

 “Aku bukan anak kecil!” tukasku geram.

Dilly tertawa hingga matanya menyempit, “Marah dibilangin anak kecil?” Tanpa kusadari Dilly menjitak kepalaku pelan, meski tidak terasa sakit tapi jitakannya berhasil membuat darahku semakin naik ke kepala. Hello, ini hari pertama kami bertemu! Dia sudah mengejekku dengan sebutan anak kecil, menarik tanganku, memaksaku menjadi novelis dan sekarang menjitakku? Dia pikir dia siapa? Dia orang aneh dan menyebalkan!

Bagikan :