-Dilly Prawira-

“Ini dia!”

“Apa? Kau membaca sebuah naskah yang menarik?”

Aku menoleh pada Cherry yang duduk di sebelahku. Aku menggelengkan kepala, “Bukan naskah utuh. Aku membaca sebuah bab di sebuah blog. Bab pertama novel ini membuat aku jatuh cinta! Inilah naskah yang aku cari,” jelasku.

Cherry mendekatkan kursinya ke arahku. Aku menunjuk ke sebuah monitor.“Tentang apa? Romansa?” tanya Cherry.

“Ya, tapi tidak. Sepertinya roman hanya bumbu cerita saja. Tema utamanya misteri dengan unsur gore.

Gore?”

“Ya! Kebrut*lan, adegan pembunuhan, darah di mana-mana, mutil*si. Huwaaah cerita ini cerita surga untukku! Akhirnya ada calon novelis yang tertarik pada genre ini!”

Cherry menatap ngeri bercampur jijik padaku, “Aku tak tahu kalau seleramu mengerikan. Jadi ini alasanmu selama menjadi editor dalam tiga bulan ini kau tak mengajukan satu naskah pun untuk dipertimbangkan penerbitannya?”

Bagikan :