Ana memiringkan kepalanya sambil menatap kosong ke arah ibunya. Ibunya menyodorkan kelingkingnya ke arah Ana. Ana mengaitkan kelingkingnya di kelingking ibunya. Mikala mengecup pipi tembam Ana dengan lembut. Dia memeluk Mikaila dengan erat menyalurkan rasa sayangnya kepada putri tunggalnya. Ana hanya diam berada dipelukkan ibunya.

***

Ana berbeda dari gadis yang seumuran dengannya. Dia gadis yang pendiam dan sulit bergaul. Kesehariannya dia hanya menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di kamar atau memetik mawar di taman belakang rumahnya. Ana hanya berbicara kepada mommy, daddy dan kepala maid[1]-nya. Itu pun hanya sedikit yang keluar dari bibir mungilnya. Awalnya Mikaila dan Lucas merasa khawatir dengan sikap putri tunggal mereka, namun setelah di test Ana tidak memiliki kecendrungan apapun. Dia hanya memiliki karakter yang tenang dan pendiam. Dia juga tidak menyukai keramaian, maka dari itu orang tuanya memberinya pendidikan di rumah dengan kepala maid sebagai guru Ana. Bagi kedua orang tuanya, kenyamanan Ana lebih diutamakan.

“Aku pulang!” ucap seseorang pria tampan yang datang dengan bungkusan besar bergambar mawar di tangannya.

[1] Kepala maid : kepala pelayan

Bagikan :