Ana dan Mikaila menatap pria itu yang menampakkan senyum lebarnya. Pria itu meraih Ana dalam gendongannya dan memutar-mutar tubuh kecil Ana. Ana mengalungkan lengannya pada leher sang pria dengan erat.

“Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga kau menjadi anak yang berguna bagi negara dan agamamu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu,” ucap pria itu sambil mengecup bibir Ana dengan lembut.

Senyum kecil terukir di bibir Ana untuk pria yang dia sebut daddy. Lucas meraih bungkusan besar yang tadi sempat dia taruh di sofa sebelum mengangkat Ana. Dia memberikan bungkusan itu ke Ana. Lucas duduk sambil memangku Ana yang mengamati gambar mawar dibungkusan besar yang dia terima. Daddy-nya mengecup mommy-nya yang datang dari dapur sambil membawa cake ulang tahun Ana. Jangan tanya mengapa mereka tidak merayakan ulang tahun putri tunggalnya dengan meriah. Mereka bisa saja menyewa hotel bintang lima untuk putri kesayangan mereka, namun Ana pasti tidak akan menyukai rencana mereka.

“Bukalah, Princess,” ucap sang ayah sambil mengecup pipi tembem Ana.

“Tiup lilin dulu,” ucap mommy-nya.

Ana menatap cake bergambar mawar buatan mommy-nya. Dia memejamkan matanya untuk mengucapkan permohonannya dalam hati. Permohonannya hanya satu dan selalu dia ulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia hanya ingin keluarganya tetap utuh dan bahagia. Perlahan dia meniup lilin itu dan suara tepuk tangan menggema di ruangan itu.

Bagikan :