Baru memikirkannya saja aku sudah pusing setengah mati, padahal ayah selalu mematok standar yang tinggi untuk anak-anaknya, coba kalau aku masuk SMU Pelita pasti aku tidak kalah dengan yang lain.

Aku sudah berusaha bernegosiasi dengan ayah, tapi beliau tetap pada pendiriannya hanya karena SMU ini lebih baik peringkatnya dibandingkan SMU Pelita. Aku membela diri dengan mengatakan kalau banyak saudara-saudara sepupuku yang sukses walaupun mereka hanya lulusan SMU Pelita. Harus bagaimana lagi membatalkan keputusan ayah. Bunda juga tidak berani berkomentar membelaku karena Bunda tahu kalau keputusan ayah adalah mutlak dilakukan.

Sepanjang pagi aku sudah ngoceh tidak jelas sambil bersiap-siap sekolah. Beberapa kali mematut diri dicermin meyakinkan diriku sendiri kalau aku sudah rapi. Ayah paling tidak suka anaknya berantakan.

“Ta … sudah jam berapa ini? Kamu mau telat masuk sekolah?” teriak ayah dari ruang tamu.

Jam dinding di kamarku menunjukkan waktu 06.10, masih sangat pagi. Ayah memang sangat tepat waktu, prinsipnya adalah lebih baik menunggu daripada ditunggu. Kalau aku berangkat sendiri pasti tidak seribet ini.

“Iya yah, Rista sudah siap kok.” Sahutku sambil berjalan menuju Bunda untuk berpamitan.

Bagikan :