“Enak … mau?”

Dia tertawa mendengar pertanyaanku,”Ogah ah, sebentar lagi juga bakalan cicipin sendiri.”

Cemot alias Liliana dan aku hanya selisih 2 tahun, sebentar lagi dia juga merasakan yang namanya ospek, rasakan besok kalau kena ospek.

Aku menyeret tas menuju ke kamarku, merebahkan diri di kasurku yang empuk untuk sekedar melepas lelah. Memejamkan mata sejenak sebelum makan.

“Mbak, disuruh bunda makan dulu.” Lili mengintip di depan pintu lalu menutup kembali pintu kamarku saat sudah selesai bicara.

Sepeninggal adikku, aku masih lanjut merenung tentang ospek. Tinggal sehari lagi ospek berakhir tapi aku sudah bosen melihat tampang-tampang jutek plus kucel dari senior cewek dan juga tatapan norak senior cowok yang ngecengi murid baru. Mana kucel-kucel dan item-item tidak ada yang cakep, ketua OSIS-nya saja cupu apalagi anak buahnya.

Kenapa ospek tidak dihapus saja, kasihan orang tua yang bayar mahal tapi anak-anaknya diperlakukan seperti ini. Selama ospek, kita-kita disuruh bawa barang-barang yang aneh-aneh, tidak berguna dan diluar batas kewajaran manusia.

Bagikan :