Segera setelah selesai dikuncir aku berangkat ke sekolah, jangan sampai terlambat. Sesampai di aula aku memilih tempat duduk urutan kedua agar jelas kalau mendengarkan penjelasan dari pembicara. Teman-temanku duduk dengan tertib dan serius mendengarkan membuatku bosan karena harus pura-pura serius mendengarkan seperti mereka.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 11.00, ini saatnya ospek terakhir dimulai. Senior-senior berkeliling mencari mangsa. Perasaanku jadi tidak enak saat salah seorang senior cewek mendekatiku.

Aduh mati aku kalau sampai aku dihukum, moodku pasti jelek sampai malam nanti. Seminggu ini aku sudah lolos dari hukuman masa hari terakhir aku musti cicipin hukuman, sia-sia perjuanganku selama ini.

“Ini dikucir berapa? Harusnya kucir lima bukan kucir dua! ” bentak kak Lisa sambil menarik rambutku.

Sakit tapi aku tidak berani mengeluh takut makin menjadi-jadi tingkahnya, “Ini kucir lima, Kak, berhubung rambutku keriting jadi kucirannya tidak kelihatan. Kalau tidak percaya cek saja, Kak.”

“Eh berani kamu sama senior!”

“Sudah-sudah, coba hitung saja, Lis.” kak Ninda yang baik hati memberi saran.

“Satu, dua, tiga, empat, lima pas kok, Lis, Nda.” Kata Frida.

Bagikan :