“Baik sekarang maupun selanjutnya, aku sudah mengatakan berulang-ulang kali sebelumnya, dan aku gak ingin menyakiti hatimu. Aku tahu kau bermaksud baik, tetapi aku gak ada urusan lagi dan tidak mau tahu tentang anakmu yang tersayang itu.”

“Jangan berbicara seperti itu, kau kan belum tahu permasalahannya,” kata mantan ibu mertuanya setengah menangis.

“Aku tahu benar apa yang ingin kau bicarakan,” jawabnya dingin dengan dahinya berkerut. “Oh, jangan menangis. Janganlah hal ini membuatku menjadi serba salah. Leo tidak berharga untuk ditangisi.”

Fifi bingung harus bagaimana, rasanya ia salah bicara begitu. Leo kan anaknya, wajar saja kalau seorang ibu menangisi anaknya, Fifi mengusap rambutnya dan menambahkan dengan hati-hati. “Louisa, please don’t cry, ok. Stop crying. Oh my Goodness, i’m sorry.” Ia bingung harus memanggilnya apa. Dulu ketika ia masih menjadi menantu di keluarga itu, memanggil Louisa dengan panggilan mama, tapi semenjak bercerai dengan anaknya, Louisa menginginkan dirinya memanggil dengan namanya saja. Karena mereka merasa ada jarak setelah perceraian tersebut.

“Leo sekarang sedang sekarat, Sofia,” jawab Louisa berbisik dengan suara serak.

Beberapa saat Fifi sangat terkejut dan termenung sendiri sambil memandang langit yang cerah dari tempatnya duduk, yang menghadap ke- halaman samping.

Bagikan :