Ia kaget dan tidak percaya, dan beruntung menjawab telepon sambil duduk secara spontan. Sehingga tidak mungkin jatuh di- lantai karena ia merasa kakinya sangat lemah seperti tidak ada tulang.

You’re joking! What do you mean?!” tanyanya sengit sambil menarik napas pajang untuk menenangkan dirinya.

“Leo sedang mengendarai mobilnya dari jalan Sudirman, ketika ia bertabrakan dengan truk yang terbalik yang sedang membawa minyak. Minyak mobil itu tumpah memenuhi jalan.

Leo tidak melihat sehingga terlambat menghentikan mobilnya. Untuk mengeluarkannya dari dalam mobilnya, memakan waktu kurang lebih dua jam,” jawabnya tersedu-sedu.

“ Leo kehilangan banyak darah, Sofia. Ia sangat pucat dan sedang sekarat.”

“Ya, Tuhan…!” Fifi tidak menyadari kalau ia telah menyebutkan kata itu. Ia bersandar di kursinya karena gemetar, ia pun menjadi tegang dan pucat. Leo bertabrakan di Jalan Sudirman berarti ia sekarang ada di Indonesia, tepatnya saat ini ia berada di kotanya. Fifi takut apa yang tiba-tiba dipikirannya muncul, ternyata sesuatu yang tidak ia inginkan. Ditekankannya pikiran itu dan berusaha dihilangkan karena mengganggu ketenangan hatinya. Setelah beberapa saat ia sibuk dengan pikirannya sendiri, maka ia mulai bertanya dengan suara agak bergetar. “Apakah ia sekarang sudah sadar…?”

Bagikan :