“Ya, dokter yang merawatnya memang berkata seperti itu, luka di kepalanya itu sangat parah. Mereka pun mengoperasinya ketika Leo sampai di rumah sakit, menurut dokter ia perlu dijauhkan dari ketegangan dan tekanan dalam otaknya. Sebab itu bisa membuat keadaannya menjadi parah, mungkin siapa tahu selanjutnya ia bisa normal kembali.”

Fifi merasa tidak tenang, tanpa sadar, ia membasahi bibirnya. “Kau… Kau mengatakan kalau ia sekarang dalam keadaan kritis? apakah dokter memang mengatakan demikian?”

“Tidak juga… “ sahutnya ragu-ragu.

“Tetapi apa yang telah mereka katakan padamu sebenarnya?”

“Bahwa keadaannya tidak begitu baik, ia mendapat luka berat. Mereka mengatakan bahwa kalau kau mau datang, hal ini akan baik sekali”.

“Jika aku mau datang?” Fifi bertanya tidak senang. “Hal ini tidak perlu kita bicarakan….”

“Leo selalu menanyakan kau terus, dan ingin tahu mengapa kami tidak memanggilmu dan menjenguknya di rumah sakit. Oh Sofia, apakah kau tidak memahaminya? Leo takut kalau kau sebenarnya ada di dalam mobil itu, ketika kecelakaan itu terjadi. Dan Leo takut kalau ternyata kau sudah meninggal, ia menuduh kami merahasiakan keadaanmu kepadanya.”

Fifi memandang burung-burung yang bertebaran di langit. Ia membayangkan Leo itu orang yang kuat fisik maupun mental dan penuh semangat serta kemauan yang keras. Sungguh sulit membayangkan kematian Leo.

Bagikan :