“Aku tahu, Leo telah memperlakukanmu dengan sangat buruk sekali.” Louisa tiba-tiba berkata sehingga memutuskan lamunannya.

“Jangan membuat seolah-olah persoalannya kecil,” tandasnya sengit dan tajam.

“Tetapi Leo sekarang dalam keadaan kritis! Kau tentu tidak mungkin menolak untuk menjenguknya, Sofia. Aku yakin hatimu pasti tidak tega berbuat demikian,” sahut Louisa langsung karena ia tahu benar sifat mantan menantunya ini.

Fifi sangat kesal kepada kenyataan yang telah dikatakan oleh mantan ibu mertuanya itu, ia memandangi jauh keluar jendela dengan pikiran kosong.

“Aku akan mengirimkan mobil untuk menjemputmu,” kata Louisa cepat. “Yang harus kau lakukan adalah hanya menemani di samping tempat tidurnya sebentar, untuk membuktikan bahwa kau baik-baik saja. Hal ini tentu tidak akan membuatmu menolak keinginanku, bukan?” Fifi kaget mendengar nada suara Louisa yang terdengar sarkastis, padahal Louisa selalu berbicara dengan lembut.

“Baiklah,” sahut Fifi menyerah. Ia mendengar Louisa menghela napas lega. Fifi meletakan gagang telepon dengan malas dan memandangi langit yang mendung. Seolah-olah ikut prihatin dengan masalah yang ia hadapi, hujan pun mulai turun.

Fifi sudah enam tahun tidak bertemu dengan Leo, suatu perjuangan yang sangat berat untuk menghapus semua kenangan dan ingatan yang

Bagikan :