Bagian 03

Senin pagi saat upacara sekolah didepan seluruh murid dan guru,kepala sekolah untuk
kesekian kalinya menyampaikan berita duka atas tidak diketemukannya Yoga
Pratama,sebelumnya pihak sekolah juga sudah mengundang seluruh wali murid sebagai
pertanggunggung jawaban dan rasa simpatik pada kasus kecelakaan yang menimpa salah
satu bus yang membawa rombongan murid mereka.

Semuanya terlihat sedih karena sampai hari terakhir pencarian Yoga tidak ditemukan.
Para guru dan perwakilan murid banyak yang datang kerumah Yoga untuk menyampaikan
rasa simpati dan bela sungkawa yang mendalam atas menghilangnya anak itu.

Sementara itu di salah satu ruangan dirumah sakit,ibunda Yoga terbaring lemas,beliau
pingsan saat ikut rombongan melakukan pencarian untuk yang terakhir kalinya.Beberapa
kerabat terlihat menjenguk dan menjaganya.

****

Jauh dari orang tua,kerabat,guru dan sahabat yang sedang berduka,Yoga terbaring pingsan
di sebuah kamar dengan pencahayaan samar,berada pada lantai atas bagian dari sebuah
rumah besar berlantai dua yang berada ditengah hutan.

Dua orang anak nampak berdiri disamping ranjang,keduanya menatap ke arah Yoga yang
terpejam.

Seorang anak laki-laki dan satu lagi seorang bocah perempuan.Anak laki-laki yang
merupakan sang kakak berbadan sedikit kurus,perkiraan usianya masih sekitaran tujuh
tahun,sementara sang adik adalah anak perempuan dengan perawakan sedikit gemuk
usianya terlihat belum genap empat tahun.

”Aku sudah bilang,jangan mendekati orang ini…”larang sang bocah laki-laki yang
merupakan kakak dari sosok bocah perempuan.

”Aku rasa dia orang baik.”ucap sang adik terlihat lugu.

”Kakak bilang jangan dekati dia…”larang sang kakak lagi,kali ini dengan nada keras dan
wajah yang terlihat marah.

Yoga yang tersadar dari pingsan mencoba bangun,dada-nya cukup sakit sehingga dia hanya
mampu terduduk.

”Ma…maafkan aku…”ucap Yoga dengan terbata-bata.

”Maafkan aku,tadi aku tidak bermaksud mengganggu adikmu…”tambah Yoga dengan suara
parau-nya.

Bagikan :