TRAGEDI DIES NATALIS

 

Aku berdiri bersandar di balik tembok pembatas sekitar sekolah yang sebagian sudah retak termakan usia. Angin segar khas perdesaan mengelilingiku, mengibarkan helai-helai rambutku dengan lembut. Ini adalah tempat favoritku untuk menyendiri atau menenangkan diri setelah kebosanan di kelas selama jam pelajaran. Pemandangan hutan dan sawah padi yang hijau bak permadani menyegarkan mata. Selain hutan dan sawah, ada juga jurang yang menganga lebar tak jauh dari sekolah ini. Pemandangan alam yang menyegarkan ini, diperindah oleh bayangan pegunungan hijau yang berdiri menjulang dengan gagahnya. Aku tak perlu jauh-jauh berwisata karena semua keindahan tersedia di lingkungan sekolahku.

“Sandra, mari kita ke aula. Rapat sudah hampir dimulai.” Ajak Sarah yang ternyata sudah berdiri di belakangku.

“Iya.” Sahutku lalu mengikuti Sarah ke aula.

Saat melewati lapangan, aku merasakan suatu semangat yang menyenangkan dan menggebu dihatiku. Lapangan yang biasanya lengang saat sekolah usai, kini terlihat ramai. Beberapa pekerja sedang sibuk membuat panggung yang nanti akan di dekorasi oleh panitia. Sedangkan di sisi lapangan, para pengisi acara sedang berlatih untuk penampilan mereka besok.

Bagikan :