Aku mengacungkan jempol. “Sudah.” Sahutku.

Reno duduk di meja di depanku. “Malam ini band 97 akan tampil.” Katanya.

“Ya, aku tahu! Beruntungnya aku… 97 band akan tampil di akhir acara sehingga aku bisa menontonnya. Pokoknya, aku takkan melewatkan kesempatan ini. Aku juga ingin meminta tanda tangan mereka dan berfoto bersama mereka setelah mereka tampil. Aku pikir itu tidak sulit untuk seorang panitia.” Ocehku gembira.

Reno mencibir, “Untuk apa kau merepotkan dirimu seperti itu? Lebih baik kau minta tanda tanganku saja. Tanda tanganku jelas lebih bagus daripada mereka. Lagipula wajahku tak kalah tampan jiak dibandingkan dengan Aldo – vokalis band 97.” Ujarnya.

“Dasar besar kepala! Seenaknya saja kau bicara seperti itu.” Ejekku.

Seorang panitia lain muncul di ambang pintu kelas XI IPA dengan membawa blocknote dan pulpen yang dikalungkannya. “Reno, Bu Mira memanggilmu!” Serunya.

“Iya, aku akan kesana!” Sahut Reno.

Reno berjalan keluar kelas. Tanpa bisa ku tahan, sepasang mataku memperhatikan Reno yang mulai menjauh. Aku dan Reno sudah berteman sejak kelas satu. Sebetulnya kami tidak satu kelas, dan tidak saling mengenal sebelumnya.

Bagikan :