Tapi Reno terus mendekatiku di setiap kesempatan dan lama kelamaan kami menjadi teman akrab. Menurutku Reno menyenangkan, lucu, dan… manis.

“Kukira Reno baru saja menyatkan cintanya padamu.” Sandra meledekku.

Aku mengernyit tanpa bisa menahan senyumku. “Hey, Reno hanya mengecek. Memastikan semuanya sudah siap. Tak ada sesuatu yang romantis diantara kami.”

“Mungkin belum. Aku yakin Reno takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku yakin dia akan menyatakan cintanya padamu di malam dies natalis.” Katanya percaya diri.

Aku berdecak. “Diam! Jangan sok tahu.” Walau tak bisa kuingkari akupun mengharapkan hal yang sama.

Luna yang sejak tadi melihat-lihat catatan, ikut bergabung bersamaku dan Sandra. “Akhirnya pekerjaan kita selesai.” Katanya lega.

“Pekerjaan kita belum selesai. Nanti kita masih harus membagikan makanan ringan dan minuman kepada para tamu undangan, guru-guru, dan teman-teman kita.” Aku mengingatkannya.

“Itu urusan nanti,” kata Luna malas. “Ngomong-ngomong aku punya sebuah cerita seru. Cerita yang datang dari sekolah ini juga. Pada malam dies natalis 12 tahun yang lalu.”

“Oh ya? Bagaimana ceritanya?” Tanya Sandra penasaran.

Bagikan :