“Dulu, ketika sekolah ini sedang merayakan pesta dies natalis gedung sekolah ini terbakar hebat karena korsleting listrik. Semua orang berlari menyelamatkan diri dan segalanya kacau. Kebakaran sekolah ini bertepatan dengan musim kemarau. Sekolah ini terletak jauh dari hutan, api dari sekolah merambat ke pohon-pohon dengan cepat. Seluruh pohon yang mengelilingi sekolah terbakar. Alat pemadam sekolah ini memang bisa mengatasi kebakaran di sekolah, tapi tak bisa mengatasi kebakaran di hutan. Semua orang yang terjebak di sekolah selamat walau ada beberapa yang sempat sekarat. Sedangkan mereka yang lari ke hutan kebanyakan tidak selamat. Mereka tewas terbakar dan tertimpa pohon yang rubuh.” Cerita Luna dengan suara rendah.

“Cerita yang menyeramkan.” Sarah bergidik dan mundur beberapa langkah dari Luna.

“Ya, beberapa hari kemudian—di hari pertama masuk sekolah—ketika semua warga sekolah mengheningkan cipta untuk mengenang para korban yang tewas, mereka semua datang. Murid-muridnya yang sudah tewas datang ke sekolah dengan memakai seragam seperti teman-temannya yang masih hidup. Mereka menganggap kalau dirinya masih hidup. Padahal mereka sudah mati!” Lanjut Luna.

“Oh my God! Berarti sekolah kita banyak hantunya dong?” Bisik Sarah ketakutan.

“Mungkin.” Pandangan Luna mengorbit sekitarnya. “Tapi tenang aja. Mereka nggak jahat kok. Mereka mati baik, lagian mereka kan kakak kelas kita.” Katanya menenangkan Sarah.

Bagikan :