Sedangkan aku mendengarkannya tanpa rasa takut. Entahlah, aku merasa biasa saja mendengar cerita itu seperti mendengar cerita fabel Si Kancil dan Pak Tani. Kulihat Sarah tampak pucat ketakutan.

“Dasar penakut kamu! Padahal tadi kan kamu sendiri yang penasaran pengen tahu ceritanya,” ledek Luna.

“Ya tapi kan kukira ceritanya nggak semengerikan itu. Apalagi sekarang malam Dies Natalis.”

Aku menggeleng, “Sarah, itu kan cerita masa lalu. Malam ini akan baik-baik aja kok.” Aku menenangkannya.

“Tapi ingat, Sandra, ini musim kemarau dan angin kencang.” Dengan serius dan pandangan mata tajam, Luna mengingatkanku.

“So what?” Aku tak mengerti.

“Kalau kejadian 12 tahun yang lalu terulang lagi, jangan lari ke hutan.” Kemudian Luna berlalu dari hadapan kami.

Sarah masih terlihat tegang disampingku. Apalagi tadi Luna berkata dengan gaya menyeramkan seperti menakuti anak kecil. “Udah deh, Sarah nggak usah takut. Itu kan cuma cerita.”

“Kamu nggak percaya sama Luna?”

“Ya percaya, tapi nggak harus takut juga kali. Insya Allah kejadian 12 tahun lalu nggak terulang.”

Bagikan :