Suara bass dan drum mulai terdengar, menandakan pentas telah dimulai. Aku, Sarah, dan Luna melihat ke lapangan sebentar. Sepertinya semua orang sudah datang. Acara dies natalis sekolahku dihadiri oleh tamu-tamu spesial seperti walikota, kepala desa, dan pejabat-pejabat lain serta kalangan prestise. Guru-guru dan tamu undangan duduk di bangku penonton yang meninggi di sekitar lapangan. Para tamu undangan datang dengan dandanan mewah seolah berlomba menunjukkan siapa yang paling kaya dan berkuasa disini. Sedangkan para murid memenuhi lapangan untuk berpesta.

“Pesta dimulai…” seru Sarah senang sambil melihat penampilan pertama yang diisi dengan dance dari para cheerleader.

“Tapi kita pesta belakangan. Pokoknya tugas kita bagiin snack kudu cepet kelar nih, biar kita bisa cepet ikutan pesta.” Sahut Luna tak sabaran.

“Dan yang terpenting, jangan sampai kita ketinggalan penampilan 97 Band!!” Seruku

“Tentu dong.” Luna dan Sarah menyahut setuju.

Reno muncul dari kerumunan panitia yang sedang sibuk. Dia menghampiriku. “Kayanya semua udah dateng. Siap-siap buat bagiin konsumsi ya.”

“Iya.” Sahutku.

“Aku bantu ya.” Reno menawarkan diri.

“Thanks.”

Bagikan :