Sekarang band sekolahku sedang tampil membawakan lagu pop yang berirama riang. Para penonton lantas melompat mengikuti irama hentakan musik yang menggebu-gebu dan bernyanyi mengikuti lagu. Aku dan Luna ikut larut dalam kegembiraan para penonton. Sambil bergandengan tangan, kami melonjak-lonjak sambil bernyanyi keras seperti orang gila. Aku tak peduli karena ini memang waktunya gila-gilaan. Musik yang terus menghentak membuatku merasa seperti orang mabuk.

Kulirik Reno yang berdiri di sampingku. Dia sama sekali tak bergerak. Dia justru memandangiku sambil tersenyum-senyum. Sebetulnya aku merasa heran kenapa Reno tidak ikut dalam hingar bingar yang menyenangkan ini. Tapi aku malas menanyainya, yang penting Reno tidak terlihat punya masalah. Iseng-iseng, aku menyenggol Reno saat tengah melonjak-lonjak dan dengan senyuman serta anggukan kepala, aku mengajaknya ikut berpesta.

“Ayo, Reno! Kita pesta… jangan diem aja atau lo bakal merugi.” Teriakku karena Reno masih juga tak bergerak.

Reno tersenyum lebar lalu akhirnya menurut. Dia ikut jejingkrakan juga sampai lagunya selesai. Setelah band sekolahku keluar panggung, MC pun datang dan mengoceh. Aku sibuk mengatur napasku yang terengah-engah karena meloncat-loncat tadi.

“Sandra.” Reno memanggil namaku.

Aku berbalik. “Ya?”

“Sandra, aku….” Ucapan Reno menggantung.

Bagikan :