1.Bad Valentine

 

“Ketika aku masuk ke dalam hidupmu. Ketika sebuah rasa merasuk ke dalam titik kelemahanku. Kau mengucap akan kasih seribu harapan untukku. Semua hilang seakan mati meregang kalbu.

        Aku tersudut di pojok kamar, dengan gaun merahku. Aku melihat sosoknya tak seperti dulu. Ya, dulu saat pertama aku mengenalnya. Mata nutbrownnya yang dingin, yang selalu kukagumi keindahannya. Sekarang menjadi mata yang merampas akan dendam yang harus ia balas sendiri atas kehancuran yang aku tak tau asal mulanya.

        Tangannya berbalut cairan merah dengan tetesannya yang kontras dari ubin kamarku. Keringat dingin membasahi dahiku. Pecahan vas bunga dengan darah di ujungnya, pertanda akan kemarahannya yang siap menghujam dendam terakhirnya, sekaligus cinta pertama untukku.

***

Aku berlari melintasi gerbang sekolah. Hari ini jadwal biologi pertama tak boleh kulewatkan. Nafasku memacu seraya mataku awas akan penjaga sekolah.

“Kau terlambat, Nona,” ucap seseorang dari belakang.

Aku meringis. Lalu membalikkan badan.

Bagikan :