“Maafkan aku, ijinkan aku menuju kelas, Pak,” ucapku.

“Hm, ada baiknya kau ikut aku ke kantor,” ucapnya. Dia menatapku, sorot matanya menandakan, “Jangan berlari, kau akan dapat masalah jika melakukannya.”

Kami melintasi koridor sekolah. Suara sepatu kulitku berdetak di ubin koridor, seakan berkata, “Hai, Kimmy… ulanganmu kosong hari ini.” Sial.

Akhirnya kami sampai di ruangan Bu Reyna, wali kelasku. Penjaga sekolah itu menyuruhku masuk. Namun aku enggan melakukannya.

“Masuklah, Kim,” ucap Bu Reyna.

“Baiklah…”

“Kenapa akhir-akhir ini kau sering terlambat, Kim?”

“Maafkan aku. Hm, aku mengalami insomnia dan tidur saat pagi menjelang,” tukasku.

“Baiklah, mungkin ini masih bisa ditoleransi. Tapi jika kau terlambat lagi besok, lihatlah surat kuning untuk orang tuamu.”

“Baiklah, Bu. Terimakasih.”

Segera aku beranjak dari tempat itu. Aku melintasi koridor sekolah kembali, kulihat seseorang duduk di bangku taman di samping perpustakaan. Dia terlihat kebingungan dan memutuskan untuk duduk sebelum ia berdiri dan berjalan kembali. Tak ada tujuan yang jelas. Sepertinya dia murid baru. Aku mulai mendekatinya.

“Hai, apa kau butuh bantuan?” tanyaku.

Bagikan :