“Okey-okey, ini sudah ketiga kali kau hampir membunuhku, Kim,” ucapnya seraya tetap melahap bekalnya.

“Hey, keempat bukan ketiga, Stell.”

Dia melotot ke arahku. Aku kembali tergelak. Dia memang sahabat yang baik.

“Siapa yang bersamamu di koridor saat jadwal pertama? Tadi aku melihat kalian saat melintasi ruanganku,” tanyanya.

“Oh, dia murid baru. Kebetulan dia satu kelas denganku di jadwal pertama. Tapi tidak untuk jadwal kedua setelah istirahat ini,” ucapku.

“Waw, pasti kau senang mendapat teman baru yang tampan kan, Kim?” ucapnya .

“Tampan?” ucapku.

Tiba-tiba seseorang datang dan menyenggol lenganku. Seketika sandwich isi dagingku terjatuh ke lantai kantin.Ugh.

“Maaf,” ucapnya.

Aku mengadahkan wajahku. Ternyata Rob.

“Ah, tak apa. Aku sudah kenyang…”

“Aku tak bermaksud membuat makan siangmu berantakan, Kim.”

“Yeah aku tau, sudahlah tak apa.”

“Hm, boleh aku bergabung di sini? Mejanya sudah penuh,” ucapnya seraya melihat sekeliling kantin.

Bagikan :