“Tidak, aku baik. Sedang apa kau di sini?” ucapku seraya tetap berjalan.

“Aku menuju rumah. Rumahku di ujung jalan sana. Lalu kau?”

“Ya, sama halnya dengan kau. Rumahku setelah ujung jalan itu, dua rumah setelah tikungan”

“Hey, kau tak membawa sarung tangan?” ucapnya ketika menatap tanganku.

“Ya, aku yang salah. Sarung tanganku tertinggal di loker setelah kusadari jadwal terakhir tadi.”

“Pakailah,” ucapnya seraya menyodorkan sarung tangannya untukku.

Aku menggeleng.

“Tak apa pakailah, aku bisa melipat tanganku lebih dalam di balik jaket.”

“Itu tak mengobati rasa dingin, Rob,” ucapku.

Dia meraih tanganku dan memasangkan sarung tangannya untukku.

“Sudah merasa hangat?”

Aku mengangguk.

“Itu lebih baik. Sampai jumpa setelah libur musim dingin, Kim,” ucapnya seraya berlari menjauh dan menghilang di balik kepulan salju. Kini kurasa rona merah menghiasi pipiku.

Aku baru ingat hari ini sekolah terakhir dan besok sudah libur musim dingin. Pantas para guru memberikan banyak sekali tugas. Ugh.

Bagikan :